Skip to main content

Posts

Showing posts with the label tulungagung

Pantai Coro

Salah satu objek wisata di kota Tulungagung adalah pantai Coro. Memang unik nama pantai ini (coro = kecoa). Entah bagaimana asal usul pemberian nama pantai ini. Sebagaimana kebanyakan pantai di Tulungagung lainnya, pantai Coro pantai yang masih asri, belum terjamah oleh pengelola. Pantai dengan pasir putihnya ini berada di sebelah timur pantai indah Popoh. Untuk menuju pantai Coro, dari arah kota Tulungagung anda bisa langsung saja menuju rute ke pantai Popoh. Tetapi setelah masuk ke kawasan Popoh anda tidak parkir ke pantai Popoh-nya, tetapi anda langsung saja menuju ke arah Reco Sewu. Setelah anda parkir kendaraan di area Reco Sewu, anda masih belum sampai ke pantai Coro, melainkan masih harus berjalan 1 km ke arah timur (±30 menit) melewati hutan dan bukit untuk sampai di pantai. Seperti yang saya sampaikan tadi kalau pantai ini masih belum terjamah pengelola dan masih asri tentunya.

Babad Tulungagung

PERGURUAN PACET Pada jaman pemerintahan Majapahit hubungan antara daerah pedalaman sangat sulit, sehingga keamanan di sebelah selatan sungai Brantas tidak dapat dikuasai. Sering disana-sini timbul pemberontakan. Berdirinya perguruan-perguruan sangat besar manfaatnya bagi kepentingan raja, karena selain mengajarkan ilmu, para guru umumnya juga merupakan mata telinga daripada perguruan negara. Demikian juga hubungannya dengan perguruan di dukuh Bonorowo, dekat Campurdarat yang terkenal dipimpin oleh seorang sakti bernama Kyai PACET. Kyai Pacet mengajarkan ngeilmu Joyokawijayan. Ia mempunyai murid-murid pilihan diantaranya : 1. Pangeran Kalang dari Tanggulangin. 2. Pangeran Bedalem dari Kadipaten Betak. 3. Menak Sopal dari Kadipaten Trenggalek. 4. Kyai Kasanbesari tua-tua dari dukuh Tunggul. 5. Kyai Singotaruno dari dukuh Plosokandang. 6. Kyai Sendang Gumuling dari desa Bono. 7. Pangeran Lembu Peteng putra Majapahit (termasuk murid baru). Pada suatu hari Kyai Pacet telah mengadakan pe...

Tulungagung Tanah Leluhur Nusantara

Pada saat Sri Girindra tersingkir dari istana, Ken Arok berusia sekitar 12 tahun. Setelah dewasa, mengetahui sejarah Jenggala, mengetahui ayahnya tersingkir dari istana akibat serbuan Senapati Agung Tunggul Ametung. Setelah bertemu Pendeta Lohgawe, ia bertekad membalas kekalahan ayahnya.   ________________   Pada sarasehan budaya awal tahun di gedung pramuka, Ki Dalang Sodrun keheranan pada Tulungagung. Ada apa sejatinya dengan tanah ini? Mengapa pada masa lalu banyak tokoh besar mengakhiri hidupnya menyingkir ke Banarawa? Mengapa Gayatri, Jaka Tingkir, Pangeran Benawa, disemayamkan di brang kidul? Dalang Wali asli Blitar itu meyakini ada apa-apanya dengan Tulungagung. Saya juga meyakini Tulungagung ada apa-apanya, pernah selama beberapa kurun, berperan besar dalam perjalanan sejarah nusantara masa silam. Keyakinan saya bertambah tebal ketika menemukan fakta bahwa Tulungagung termasuk satu-satunya wilayah di luar pusat keraton, yang memiliki daerah perdikan terbanya...

Peninggalan Sejarah Tulungagung Sebagai Inspirasi Kebudayaan

Telah kita ketahui bahwa Tulungagung hidup bersama dengan kerajaan Medang Mataram, Medang Jawa timur, Panjalu, Janggala, Singasari, dan Majapahit. Selama kurun itu, banyak peninggalan sejarah, terutama bangunan candi-candi beserta pernak-perniknya, tersebar di sepenjuru Tulungagung. beberapa masih dapat kita saksikan sekarang, seperti candi Penampihan, candi Dadi, candi Mirigambar, candi Sanggrahan, candi Gayatri, goa Pasir, Goa Selomangleng, dan masih banyak lagi. Meski tidak sebesar Borobudur atau Prambanan, atau keraton Yogyakarta, setidaknya sejarah panjang Tulungagung belum sepenuhnya tenggelam.   Ayu Sutarto telah memetakan Jawa timur menjadi sepuluh subkultur, yaitu Jawa Mataraman, Jawa Panaragan, Samin atau sedulur sikep, Tengger, Osing, Pendulungan, Madura Pulau, Madura bawean, Madura Kangean, dan budaya Arek. Tulungagung termasuk dalam subkultur Jawa Mataraman. Budaya Mataraman secara verbal tampil di masyarakat Pacitan, Ponorogo, Madiun, Magetan, Ngawi, Nganjuk, Tre...

Sejarah Kota Tulungagung

Pegununungan Kapur di Wilayah Tulungagung Selatan Wilayah Tulungagung ternyata sudah dihuni sejak zaman pra sejarah dulu. Yang dianggap sebagai penghuni awal adalah homo wajakensis. Manusia pra sejarah yang fosilnya ditemukan oleh Eugene Dubois di daerah Tulungagung Selatan. Lokasi penemuannya konon terletak di dusun Nglepung desa Wajak Kecamatan Campurdarat. Nama Tulungagung sebenarnya berasal dari dua kata 'Toeloeng dan Agoeng. Arti dari dua kata itu Toeloeng berarti mata air dan Agoeng berarti besar. Sebelumnya nama kota ini adalah Kabupaten Ngrawa. Penyebutan kata Ngrawa sendiri konon dari banyaknya daerah berawa yang ada atau dalam bahasa jawanya “Ngrowo”. Tulungagung awalnya hanya merupakan bagian dari distrik dari kabupaten Ngrawa. Waktu itu ibu kotanya masih berada di daerah Kalangbret. Sejak beberapa tahun lalu ada koreksi mengenai penentuan hari jadi kota Tulungagung. Merunut dari prasasti yang ditemukan di daerah Thani Lawadan yang kini diyakini bernama Wates, C...

Air Terjun Lawean

Air terjun Lawean, terletak di dusun Turi, desa Geger, kecamatan Sendang, 25Km arah barat daya kota Tulungagung. Dengan ketinggian 1200 M dari permukaan laut, air terjun ini merupakan bagian dari lereng gunung Wilis. Untuk menuju lokasi air terjun, pengunjung harus menempuhnya dengan berjalan kaki sekitar 3 Km. Dengan 9 kali menyeberangi sungai, dan melewati hijaunya perbukitan di sela-sela perjalanan, perjalanan yang melelahkan akan terbayar dengan keindahan yang ditawarkan oleh air terjun ini. Tidak jauh dari air terjun Lawean, terdapat juga air terjun lain yang tidak begitu tinggi tapi juga tak kalah mempesona untuk dikunjungi, yaitu air terjun Panda Wangi. Di lokasi yang lain lagi, yang juga tidak jauh, terdapat Candi Penampehan. Semua lokasi di sekitar air terjun sangat layak untuk dikunjungi. Sumber : http://www.eastjava.com

Pantai Popoh

Pantai Popoh, adalah salah satu obyek wisata pantai yang terletak di Tulungagung, tepatnya di pesisir Samudra Hindia, 30 Km sebelah selatan kota Tulungagung. Pantai yang langsung berhadapan langsung dengan laut Bebas Samudera Hindia ini memang banyak menawarkan keeksotikan keindahan panorama pantai, baik wisata bahari maupun keindahan deburan ombaknya. Pantai Popoh merupakan salah satu obyek wisata andalan daerah Tulungagung, berbagai acara selalu diadakan di kawasan wisata ini baik itu musik ataupun acara-acara lain. Hampir setiap hari libur dan hari besar kawasan wisata ini selalu dipadati pengunjung, baik yang berasal dari sekitar Tulungagung maupun luar Tulungagung bahkan tidak sedikit yang berasal dari luar negeri. Pantai Popoh berbentuk teluk dan berada di ujung timur pegunungan Kidul. Air yang cukup tenang, angin laut yang tidak begitu kuat, dan keindahan gunung disekitar teluk telah menjadi daya tarik utama pantai ini. Sumber : http://www.eastjava.com

Bendungan Wonorejo

Bendungan Wonorejo, adalah bendungan terbesar di Asia Tenggara, dengan debit 15000 m3 per detik. Bendungan ini terletak di sebelah barat kota Tulungagung, tepatnya du desa Wonorejo, kecamatan Pagerwojo, dan berfungsi sebagai pembangkit tenaga listrik, pengairan, perikanan, olah raga dan tempat rekreasi. Sebagai satu tujuan wisata, Bendungan ini dilengkapi dengan beberapa prasara seperti, taman bermain, area pemancingan, speed boat, penginapan dan sarana untuk hiburan. Hamparan air bendungan yang tenang dan berwarna biru menyapa siapa pun yang berkunjung ke Bendungan Wonorejo, 12 kilometer dari Kota Tulungagung. Suasana sejuk di salah satu bendungan terbesar di Asia Tenggara itu selaras dengan suasana alam sekitarnya yang serba hijau dan rindang. Di kanan-kiri jalan terhampar sawah dan deretan pepohonan. Sumber : http://www.eastjava.com

Industri Marmer Tulungagung

Kepopuleran Tulungagung sebagai penghasil Marmer tidaklah terbentuk dalam 1 atau 2 tahun, melainkan sudah ada sejak jaman Belanda. Lokasi industri marmer ini berada di desa Besole, kecamatan Besuki, Tulungagung. Mengapa potensi daerah ini sangat besar untuk menghasilkan marmer, karena menurut penelitian di daerah ini terdapat cadangan marmer yang sangat besar dengan kualitas yang baik untuk digunakan sebagai penghasil marmer dan bahan bangunan. Saat ini, nama Tulungagung sebagai penghasil marmer telah semakin membuat citra daerah itu semakin berkembang, tidak hanya di daerah sekitar Jawa Timur, tapi juga ke beberapa negara . Ditambah lagi dengan adanya permintaan pasar akan marmer, membuat kabupaten ini harus men supply dan memproduksi lebih banyak lagi marmer. Karena begitu besarnya permintaan pasar akan marmer, maka pengusaha di beberapa tempat di Tulungagung juga menyediakan bahan lain seperti, andesit, granit, bobos, onyx, dll, yang hasilnya tak kalah bagusnya da...